opini Muh Fharaz 05 Nov 2025 106 Views
opini
Muh Fharaz
05 Nov 2025
106 Views
IPM.MAKASSAR.OR.ID Melihat kondisi yang terjadi di berbagai organisasi saat ini, kita dapat menyaksikan semakin berkurangnya minat orang untuk bergabung dan berproses di dalamnya. Akibatnya, tidak ada regenerasi yang siap melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Banyak faktor yang memengaruhinya, salah satunya adalah kurangnya rasa nyaman dalam proses perkaderan.
Bahkan sebelum memasuki organisasi, banyak calon peserta sudah merasa takut ketika mendengar kata perkaderan. Hal ini disebabkan oleh berbagai cerita yang beredar tentang adanya praktik senioritas, tindakan kekerasan, bahkan kasus tragis yang menimbulkan korban jiwa. Kondisi semacam ini jelas telah melenceng dari tujuan utama organisasi itu sendiri. Bukan organisasinya yang salah, tetapi orang-orang di dalamnya yang memiliki cara berpikir sempit dan salah memahami makna perkaderan.
Padahal, perkaderan bukanlah ajang untuk balas dendam, bukan pula tempat perpeloncoan. Perkaderan sejatinya adalah wadah bagi peserta untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang dapat mengubah karakter mereka ke arah yang lebih baik. Tempat di mana mereka dapat belajar sambil tersenyum, bukan belajar sambil merasa tertekan. Sangat disayangkan ketika perkaderan justru menjadi pengalaman buruk dalam perjalanan hidup seseorang, padahal semestinya menjadi pengalaman berharga yang menyenangkan.
Maka, perlu kita usahakan bersama perkaderan yang menggembirakan itu. Jika organisasi ingin terus tumbuh dan berkembang, kebiasaan-kebiasaan negatif harus dihapus, dimulai dari aspek paling dasar dalam pengelolaan organisasi, yaitu sistem perkaderan sebagai tahap awal pembentukan calon-calon pemimpin. Tanpa adanya transformasi, sistem perkaderan akan berhenti di tempat dan menjadi usang. Bila kita masih mempertahankan pola lama seperti “sistem perkaderan Zaman Majapahit†lalu diterapkan pada generasi Z dan generasi Alpha yang kita hadapi sekarang, sudah tentu tidak akan relevan. Mereka akan menjadi pasif dan kehilangan semangat untuk berproses.
Karena itu, penting adanya transformasi sistem perkaderan yang menyesuaikan dengan perkembangan Zaman. Tahap Need Assessment menjadi langkah penting untuk memahami kondisi, karakter, dan kebutuhan peserta sebelum pelaksanaan perkaderan. Selain itu, model pembelajarannya pun perlu diperbarui. Tidak cukup hanya dengan metode ceramah dan tanya jawab seperti dulu, tetapi harus dikemas dalam bentuk yang menyenangkan dan partisipatif, misalnya melalui pendekatan gamifikasi atau Focus Group Discussion. Dengan begitu, perkaderan dapat menjadi ruang belajar yang hidup, interaktif, dan menyenangkan bagi peserta.
Beberapa organisasi sebenarnya telah mulai menerapkan konsep perkaderan yang menggembirakan ini. Salah satunya adalah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), yang sudah melakukan proses transformasi baik dari sisi sistem maupun metode pembelajarannya. Langkah ini patut diapresiasi. Namun, masih banyak pula yang belum mengikuti perubahan tersebut karena masih beranggapan bahwa kekerasan fisik atau nonfisik bisa membentuk mental yang kuat. Padahal, tidak semua peserta dapat berkembang di bawah tekanan. Mental yang tangguh justru lahir dari proses belajar yang bermakna, bukan dari rasa takut.
Melalui tulisan ini, saya mengajak kita semua untuk mengubah cara pandang terhadap proses perkaderan. Mari hilangkan praktik-praktik negatif yang menakutkan dan menggantinya dengan pendekatan yang positif, mendidik, serta menggembirakan. Karena hanya dengan cara itulah organisasi akan tetap hidup, tumbuh, dan menjadi tempat yang dirindukan oleh generasi penerusnya.
Mari kita usahakan perkaderan yang menggembirakan itu, sebagai wadah bagi mereka yang ingin belajar dengan gembira, menemukan makna baru dalam berorganisasi, dan menjadikan perkaderan sebagai pengalaman terbaik dalam perjalanan hidup mereka.
Mungkin Anda Suka: