Loading...

Menapak Era Baru IPM Makassar: Kaderisasi sebagai Poros Gerakan Pelajar

opini Irham Munasdar 05 Nov 2025 65 Views

opini Irham Munasdar
05 Nov 2025 65 Views

IPM.MAKASSAR.OR.ID Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sejak kelahirannya pada 18 Juli 1961 di Yogyakarta, telah menegaskan diri sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang berperan dalam membentuk pelajar yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. IPM bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi ruang pembentukan karakter, intelektual, dan spiritual yang berorientasi pada kemajuan.

Sebagai organisasi kepelajaran, IPM dituntut untuk hadir adaptif dengan perkembangan zaman. Saat ini, pelajar di Kota Makassar dihadapkan pada tantangan yang tidak sederhana: disparitas mutu pendidikan antara sekolah negeri dan swasta, meningkatnya kenakalan remaja, tekanan sosial akibat media digital, serta lemahnya dukungan terhadap kesehatan mental pelajar. Di tengah kondisi ini, IPM memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi ruang alternatif bagi pelajar tumbuh dan menemukan jati dirinya.

Namun, permasalahan pelajar di Makassar tidak berdiri sendiri. Kebijakan pendidikan daerah—seperti sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang sering menimbulkan ketimpangan dan kebijakan penambahan rombongan belajar pada sekolah negeri—justru memperlebar jurang antara sekolah negeri dan swasta. Sekolah-sekolah Muhammadiyah yang selama ini menjadi basis pelajar IPM turut terdampak, kehilangan kesempatan menjaring peserta didik baru. Akibatnya, ruang pembinaan kader pun ikut menyempit.

Di sinilah IPM Makassar mengusung visi “Menapak Era Baru”—sebuah semangat transisi dan pembaruan menuju gerakan pelajar yang lebih modern, adaptif, dan memberdayakan. Tiga misi utama menjadi porosnya: rekonsiliasi kader, resiliensi kader, dan student empowerment. Dari ketiganya, kaderisasi adalah kunci utama. Tanpa pengkaderan yang kuat dan masif, IPM hanya akan menjadi slogan tanpa ruh.

Kaderisasi di IPM bukan sekadar pelatihan formal. Ia adalah proses menumbuhkan kesadaran diri, tanggung jawab sosial, dan kemampuan untuk menjadi penggerak perubahan. Melalui delapan langkah strategis yang telah ditempuh Bidang Perkaderan PD IPM Makassar, semangat itu mulai diwujudkan secara sistematis.

Pertama, dilakukan pendataan kader dan fasilitator aktif se-Kota Makassar untuk mengetahui potensi sumber daya penggerak. Data ini penting untuk mengukur kekuatan organisasi dan menentukan strategi pelatihan berikutnya. Kedua, massifikasi Forum Ta’aruf Siswa (FORTASI) di sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi upaya memperkenalkan IPM sejak dini kepada pelajar. Ketiga, pelaksanaan Pelatihan Fasilitator Pendamping I (PFP I) hadir sebagai solusi atas keterbatasan jumlah fasilitator aktif.

Langkah berikutnya adalah Coaching Fasilitator, yang tidak hanya memperbarui pengetahuan fasilitator tetapi juga memperkuat kesamaan pandangan tentang arah kaderisasi IPM Makassar. Selain itu, massifikasi Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati I (PKDTM I) di sekolah-sekolah Muhammadiyah dilakukan dengan pendekatan baru: pengkaderan yang menyenangkan, tidak kaku, dan berorientasi pada kebutuhan pelajar.

Selanjutnya, Follow Up Akbar menjadi ajang silaturahmi kader dan ruang refleksi pascapelatihan, sedangkan Sentralisasi Syahadah dihadirkan untuk memperkuat tertib administrasi dan validasi data kader. Tahap terakhir, Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II (PKMTM II), menjadi gerbang menuju student empowerment — mendorong lahirnya kader inisiator dan komunitas pelajar berbasis minat dan bakat.

Melalui delapan langkah tersebut, arah baru IPM Makassar mulai terbentuk. Namun perjuangan belum usai. Saat ini, tantangan sesungguhnya adalah memperluas jangkauan kaderisasi agar tidak hanya menyentuh sekolah-sekolah Muhammadiyah, tetapi juga pelajar di sekolah negeri dan masyarakat umum. Sebab, IPM tidak boleh nyaman berada di zona eksklusifnya sendiri.

Di masa depan, pengkaderan perlu diarahkan menjadi perkaderan berbasis komunitas — model yang memungkinkan kader bergerak sesuai minatnya, baik di bidang literasi, teknologi, sosial, maupun seni. Pendekatan ini lebih realistis di tengah perubahan karakter pelajar generasi Z yang membutuhkan ruang ekspresi dan fleksibilitas tinggi.

Kaderisasi bukan sekadar urusan struktural, tetapi soal keberlanjutan ide dan gerakan. Karena itu, melaksanakan pengkaderan secara tertib, luas, dan berkelanjutan menjadi keharusan. Setelah seluruh proses berjalan, langkah selanjutnya adalah merapikan struktur, memperkuat koordinasi, dan memastikan setiap kader diberdayakan untuk memberi dampak sosial nyata.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, IPM Makassar perlu kembali pada jati dirinya: menjadi ruang pembentukan pelajar yang kritis, tangguh, dan berkemajuan. Sebab, benar adanya bahwa terkadang seseorang menjadi tidak menarik lagi bukan karena fisiknya, melainkan karena cara berpikirnya. Dan IPM yang menarik adalah IPM yang terus berpikir, berbenah, dan bergerak.