opini Nabila Putri Salsabila 05 Nov 2025 75 Views
opini
Nabila Putri Salsabila
05 Nov 2025
75 Views
IPM.MAKASSAR.OR.ID Di setiap masa, generasi terus tumbuh dan berkembang dengan berbagai pertanyaan mengenai kehidupan. Dalam dinamika yang terjadi di tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), pertanyaan serupa muncul: untuk apa pelajar tumbuh dan bergerak? Sayangnya, pengajaran di ruang kelas sering kali tidak cukup memberikan jawaban. Pertanyaan itu justru lahir di ruang-ruang kecil, di mana tempat orang-orang mengenal makna perjuangan dan apa yamg disebut dengan tanggung jawab.
Dari sanalah proses itu bermula. Proses untuk mempersiapkan manusia agar mampu memahami kehidupan, agar tetap sanggup berdiri ketika banyak yang memilih mundur, melepas tanggung jawab, dan hancur bersama keadaan. Saya melihat begitu banyak amanah yang terlepas dari genggaman mereka yang semestinya memegang kepercayaan itu. Karena itu, proses mempersiapkan pemegang amanah tersebut kita sebut dengan perkaderan.
Sejak berdirinya, Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam yang secara konsisten menjalankan proses kaderisasi hingga hari ini. Namun, saya ingin menyoroti satu hal: proses kaderisasi IPM yang selama ini hanya hadir di sekolah-sekolah di bawah naungan Muhammadiyah, khususnya di Kota Makassar. Pertanyaan yang layak kita renungkan adalah: apakah IPM hanya diperuntukkan bagi pelajar yang bersekolah di Muhammadiyah saja?
Menurut hemat saya, IPM yang lebih terbuka dan hadir pada seluruh sekolah di Kota Makassar, merupakan hal menarik dan bernilai baik jika bisa dilakukan. Dalam hal kolaborasi dan inklusivitas, IPM bisa menjadi jembatan kolaborasi lintas identitas pelajar yang menumbuhkan ruang aman untuk mengekspresikan pendapat bagi seluruh pelajar tanpa sekat perbedaan. Alih-alih berfokus pada kata “Muhammadiyahâ€Â, saya justru lebih menekankan pada kata “Pelajar†dalam nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Bahwa setiap pelajar, di mana pun ia menuntut ilmu, sejatinya adalah bagian dari perjuangan dakwah dan nilai-nilai kemuhammadiyahan. Maka, apa yang membuat kita lantas begitu menutup diri terhadap objek-objek yang ingin kita kaderisasi?
Selain itu, ekspansi Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke seluruh pelajar di Kota Makassar bagi saya akan melahirkan dakwah kultural dan keteladanan. Alih-alih membawa simbol organisasi secara frontal, IPM bisa mewujudkan nilai-nilai Muhammadiyah melalui tindakan nyata dalam kejujuran akademik, kepedulian sosial serta pembiasaan literasi dan diskusi kritis. Dengan begitu, IPM tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan, melainkan juga sebagai gerakan pelajar yang berdaya, berpikir kritis, dan berakhlak mulia.
Lebih dari itu, penting adanya kaderisasi terbuka. Berdasarkan data dari situs Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, terdapat 237 SMP, 145 SMA, dan 78 SMK dan totalnya ada 460 sekolah di Kota Makassar. Sementara itu, jumlah sekolah Muhammadiyah di Makassar berkisaran 45 sekolah, berarti ada sekitar 415 sekolah non-Muhammadiyah yang belum tersentuh oleh IPM. Angka ini menunjukkan betapa banyak potensi pelajar yang belum digarap. Sayang sekali jika IPM tidak mampu menjadi wadah bagi para pelajar untuk mencari makna dan arah perjuangan mereka.
Dampaknya terasa jelas. Banyak kali kita merasa kewalahan mencari penerus karena minimnya wajah baru yang muncul dalam proses perkaderan. Semangat persaingan antar kader pun perlahan memudar, karena jumlah kuota di setiap jenjang perkaderan semakin terbatas. Ironisnya, ada kalanya kader diminta hadir hanya demi “meramaikan acaraâ€Â, bukan karena keinginan dan kesadaran untuk belajar dan berproses. Ini adalah gejala yang perlu kita sadari bersama. Kita tidak sedang mencetak massa, melainkan menumbuhkan manusia.
Atas dasar itu, kesadaran bahwa semua pelajar adalah objek kaderisasi IPM harus tumbuh di setiap penggerak organisasi. Kita tidak boleh puas hanya mengader mereka yang “sudah Muhammadiyahâ€Â. Keberanian untuk membuka diri, menyapa pelajar di luar lingkup kita, dan menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam, kemuhammadiyahan, serta kepemimpinan pelajar bisa diterima oleh siapa pun, merupakan bentuk nyata dari dakwah yang menggembirakan.
Sudah saatnya IPM hadir sebagai rumah yang terbuka bagi seluruh pelajar, tempat mereka belajar dengan gembira, berproses dengan kesadaran, dan tumbuh dengan nilai-nilai yang mencerahkan. Karena hanya dengan cara itu, perkaderan akan benar-benar hidup, berdaya, dan menjadi pengalaman terbaik dalam perjalanan mereka sebagai pelajar.
Mungkin Anda Suka: