opini Fauziah Harsyad 05 Nov 2025 116 Views
opini
Fauziah Harsyad
05 Nov 2025
116 Views
IPM.MAKASSAR.OR.ID Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati I (PKDTM I) merupakan pintu pertama dalam perjalanan kaderisasi di lingkungan Muhammadiyah. Di sinilah pelajar mulai mengenal nilai-nilai Islam, disiplin, tanggung jawab, dan semangat perjuangan yang menjadi dasar bagi lahirnya kader tangguh dan berakhlak mulia.
Namun, pelatihan kader bukan hanya soal metode atau jadwal kegiatan. Ia juga tentang rasa dan pengalaman. Dan di titik inilah, refleksi perlu dilakukan.
Beberapa waktu lalu, dalam pelaksanaan PKDTM I di salah satu sekolah, muncul kembali cerita lama — tentang perasaan tidak nyaman yang dulu dialami seorang peserta terhadap panitia dan fasilitator. Sekilas tampak sederhana, tapi ternyata meninggalkan luka yang mendalam. Waktu telah berlalu, namun ingatan itu bertahan. Dampaknya muncul di pelatihan berikutnya: muncul keraguan dari orang tua, kekhawatiran dari pihak sekolah, dan penurunan kepercayaan terhadap proses perkaderan itu sendiri.
Peristiwa ini memberi pelajaran penting: bahwa perkaderan tidak boleh hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses yang manusiawi. Tegas bukan berarti keras, dan mendidik bukan berarti menekan. Kader tidak dibentuk dengan perintah dan hukuman, tetapi melalui teladan, bimbingan, dan kehangatan interaksi.
Kesalahan dalam komunikasi atau pendekatan bisa menimbulkan efek domino yang panjang. Satu pengalaman buruk di masa lalu bisa membuat banyak calon kader kehilangan kepercayaan. Padahal, semangat dasar PKDTM I adalah membentuk generasi pelajar yang cinta dakwah, bukan takut pada sistemnya.
Di sinilah pimpinan cabang, panitia, dan fasilitator memainkan peran penting. Mereka bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi pendidik karakter dan penjaga nilai organisasi. Dalam setiap teguran, ada pendidikan. Dalam setiap tugas, ada pembiasaan. Namun dalam setiap interaksi, harus selalu ada kasih dan empati.
Perkaderan yang baik adalah yang menumbuhkan, bukan menakut-nakuti. Ia membentuk pelajar menjadi dewasa dengan kesadaran, bukan dengan paksaan. Maka pendekatan yang humanis, partisipatif, dan berorientasi nilai menjadi keniscayaan dalam setiap pelatihan kader di semua level IPM.
Ke depan, setiap penyelenggaraan PKDTM I harus memastikan keseimbangan antara disiplin dan kelembutan, antara metode dan makna. Fasilitator perlu dibekali dengan pelatihan komunikasi, psikologi pelajar, serta metode pembinaan yang adaptif dengan karakter generasi sekarang. IPM tidak bisa lagi memakai pola lama yang keras dan monoton, karena zaman dan cara berpikir kader sudah berubah.
Kita ingin pelajar mengenang PKDTM I bukan sebagai masa penuh tekanan, tetapi sebagai masa ketika mereka pertama kali jatuh cinta pada perjuangan. Sebab, kader yang lahir dari rasa cinta akan bertahan lebih lama daripada kader yang lahir dari rasa takut.
Peristiwa masa lalu yang sempat mencederai kepercayaan masyarakat seharusnya tidak menjadi beban, tetapi menjadi bahan koreksi untuk melangkah lebih baik. Setiap kesalahan adalah kesempatan untuk memperbaiki sistem, memperhalus cara, dan memperdalam makna kaderisasi.
Akhirnya, kita belajar bahwa kaderisasi bukan hanya soal mencetak banyak kader, tetapi tentang menanam nilai dengan cara yang benar. Dan nilai itu hanya bisa tumbuh jika pelatihan dilandasi kasih, keikhlasan, dan teladan.
Karena itu, marilah kita menjadikan setiap PKDTM I bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum pembaruan. Agar tidak ada lagi luka yang tertinggal, dan tidak ada lagi kepercayaan yang hilang. Hanya dengan itulah, kaderisasi IPM Makassar benar-benar menjadi jembatan menuju “Era Baru†yang kita cita-citakan bersama.
Mungkin Anda Suka: